Tags

, , , , ,

#SaveSharks..

Sebuah hashtag yang dipakai dalam sebuah kampanye bermisi penyelamatan hiu yang dilakukan Divemag Indonesia & Riyanni Djangkaru, dengan Itong — seekor hiu tonggos yang ramah dan lucu sebagai ikon utamanya.

Itong Hiu - Ikon dari kampanye #Savesharks

Itong Hiu – Ikon dari kampanye #Savesharks

“KEREN!” Itulah yang pertama kali terlintas dipikiran saya pas liat Itong.. — Soalnya, selama ini kan sudah tertanam lewat film, cerita, bahkan berita kalau hiu itu adalah seekor predator yang ganas, agresif, yang kalau kita ketemu di laut pasti bakal langsung dimakan. Beda banget sama beruang misalnya, beberapa jenis beruang mungkin tergolong agresif (itu juga karna insting liarnya).. iya gak? Tapi di pikiran kita tetep aja beruang itu lucu, kan? ya itu.. image beruang yang lucu dan baik sudah terbentuk berkat karakter-karakter seperti Teddy Bear atau Winnie the Pooh. They’re cute, fluffy and everyone loves ’em. Kalo hiu? yang kepikir pasti langsung film Jaws atau terbayang adegan sirip mengelilingi perahu, yang artinya bahaya.

Kenyataannya? (setelah riset) Dari hampir 500 spesies hiu.. yang agresif, ganas, dan pernah ada hubungannya dengan kematian manusia masih bisa dihitung jari loh! Itu juga katanya karna hiu-hiu (yang termasuk agresif) itu mengira manusia yang berenang atau lagi surfing adalah anjing laut.

“Sejauh kita tidak melakukan sesuatu yang mengancam bagi mereka, seharusnya mereka pun tidak akan mengganggu” – Pak Rudi, tim monitoring dari CI.

Sekalian sedikit sharing pengalaman sendiri.. pada bulan Januari lalu, tepatnya setelah beruntung bisa ikutan melihat langsung kegiatan monitoring hiu yang dilakukan tim Conservation International (CI) di Wayag, Raja Ampat; saya snorkling di daerah monitoring yang sudah didatangi 2 black-tip sharks.. bahkan melihat salah satu dari mereka berenang bebas di dasar laut saat snorkling loh! gak ada masalah tuh.. :D

Black-tip Sharks saat hiu monitoring.

Black-tip Sharks saat hiu monitoring.

Jadi gak semuanya seganas seperti yang sering kita dengar. Eh, bahkan ada hasil sebuah statistik yang menunjukan bahwa manusia yang mati karna hiu itu, masih jauh lebih sedikit dibanding dengan manusia yang mati tersambar petir atau bahkan bersepeda. Nah loh! Kaget kan?! :))

Should we fear sharks?

Should we fear sharks? – sharksavers.org

#SaveSharks..

Hashtag ini mulai saya pakai di akun twitter untuk share info yang saya tahu tentang hiu sejak November 2012. Tepatnya, setelah membaca tulisan Teh Riyanni dalam kompetisi Nescafe Journey 2 tentang pentingnya hiu dalam ekosistem laut, juga tentang praktek shark finning dan kandungan zat merkuri pada hiu.

Iyaaa.. ini sebelum saya tahu soal kampanye #savesharks dan kenal Itong, sebelum saya mulai riset-riset, juga sebelum snorkling di atas black-tip shark yang berenang bebas. Jujur.. tulisan itulah yang membuat saya ‘ngeh’ tentang issue ini untuk pertama kali. Aneh deh.. padahal, dulu pernah kok belajar tentang rantai makanan, tapi gak pernah sampe terpikir sejauh kalau sang predator punah, keseimbangan laut bakal terancam dan bahkan bisa hancur! Gak rela!

“Ketika 11 species hiu hilang, 12 dari 14 species yang biasanya dimakan hiu jumlahnya akan berlipat-lipat ganda. Mereka jadi merusak ekosistem, termasuk menghabiskan species-species di rantai makanan terbawah. Kalau species di rantai makanan terbawah semakin habis, pelan-pelan habis juga dong kehidupan lautan. Kalau kehidupan laut habis, ya berarti kita nggak akan bisa lagi makan ikan laut atau melihat cantiknya pemandangan di laut, kan?” – Djangkaru, Riyanni

Piramida ekosistem laut, dengan dan tanpa hiu.

Piramida ekosistem laut, dengan dan tanpa hiu.

Sama halnya dengan praktek shark finning. Pada tau gak sih tentang praktek itu? Saya sih, itu pertama kalinya tau juga.. makanya, gak nyangka kalau ternyata sup sirip hiu yang sering disediakan di acara besar ternyata punya cerita yang menyedihkan dibaliknya.. fiuh.. untung aja belum pernah makan. *elus dada

Untuk yang belum tau, praktek shark finning adalah sebuah cara pengambilan sirip hiu; dimana hiu yang tertangkap akan langsung dipotong siripnya saat masih hidup dan tubuhnya dibuang kembali ke laut karena dagingnya tidak se-berharga siripnya! (beneran langsung gitu.. ketangkep trus siripnya dipotong di tempat.. hiii.. *merinding). Si hiu yang masih hidup tanpa siripnya pun akan tenggelam, menunggu ajalnya di dasar laut. Miris!

“Diperkirakan sekitar 100 juta ekor hiu mati setiap tahunnya karena manusia, salah satunya untuk diambil siripnya.”

Gila kaannn??! Jadi sekarang yang lebih jahat itu, hiu atau manusia?

Selain itu semua, masih banyak loh info lainnya.. salah satunya adalah info seperti kandungan zat mercuri pada hiu yang ternyata 40x diatas batas aman, yang kalau terus menerus dikonsumsi bisa menimbulkan banyak penyakit seperti kerusakan otak hingga gangguan syaraf!

Mikir dua kali gak sekarang? Masih mau konsumsi atau penasaran mau nyoba? Mending jangan.. Kita, sebagai konsumen itu pemegang kunci dalam pasar loh. Gimana enggak? Ada permintaan maka ada persediaan dooong.. jadi selama masih ada konsumen, ya hiu bakal terus-terusan diburu — mau itu permintaan untuk sirip, daging, minyak, bahkan giginya!

Setelah melakukan survey pribadi; ada 2 hal yang membuat saya kepingin untuk ikut mengkampanyekan #savesharks.. Satu karena ternyata masih banyak orang di sekitar saya yang gak tau tentang issue ini. Satunya lagi, (ini penting!) karena dari sekian banyak orang yang saya tanya dan share info-info yang saya tahu (lewat survey plus ngobrol langsung dan sosialisasi), ada sih yang tetep bilang gak peduli atau masih mau makan.. tapi.. masih bisa dihitung jari! sisanya yang jauh lebih banyak itu? PEDULI LOH! Bahkan, beberapa ada yang jadi ikutan share info ke keluarga dan temen-temennya! AHEY!! :))

Saat mencoba mensosialisasikan fakta-fakta hiu di Vihara.

Saat mencoba mensosialisasikan fakta-fakta hiu di Vihara, ternyata banyak yang belum tau loh!

Dari situ, saya percaya kalo masih ada harapan! Iya dong.. kenyataannya masih banyak kok yang peduli! Pokoknya informasi itu penting — yang belum peduli sebenernya kayak saya yang dulu, yang belum ‘ngeh’ dan masih punya zero knowledge tentang issue ini. So, the least that we can do is to share and educate more and more people about this. Spread the words, people! Dari sadar dan mengerti kita jadi peduli, itu yang paling penting.

Selain share info, bisa loh ikut bergabung sama yang lain lewat sini >> KLIK PETISI

Terus, liat video hasil pembelajaran di Raja Ampat yang dibuat oleh saya, Sefin dan juga Teh Riyanni untuk melihat lebih jelas tentang alasan kenapa kita harus #savesharks. Video yang berjudul ‘Runaway Shark‘ ini bercerita tentang Itong yang kabur dari sebuah supermarket dan bertemu dengan teman-teman sesama hiu di Raja Ampat yang akhirnya menceritakan perjuangan dan keadaan mereka disana.

Let’s #savesharks, save the ocean, and save our future! Yes OUR future! Karena bukan hanya untuk saya atau untuk kamu, tapi ini semua untuk keseimbangan dalam kehidupan yang berhubungan dengan kita semua. :)

Cheers!

– kar

Advertisements