Tags

, , , , , ,

Wayag dari atas bukit kacamata! :)

Pemandangan indah Wayag dari atas bukit ‘Kacamata’! :)

“Ini list PR nya yahh, cari tau tentang… ” kalimat inilah kira-kira, yang dikatakan oleh Teh Riyanni Djangkaru beberapa hari sebelum kita berangkat untuk bersekolah alam dengan misi penyelamatan hiu ke Raja Ampat, bulan Januari lalu. Waktu baca list yang bertujuan sebagai bekal informasi di sana nanti, saya cuma bisa bengong sebentar sambil mencerna nama per nama yang baru saya dengar.. walau akhirnya tetep gak tau dan harus riset, dua dari sekian nama diantaranya ternyata adalah spesies hiu endemiknya Raja Ampat! yaitu Wobbegong dan Kalabia Shark.

Akhirnya.. setelah riset dan baca-baca, ternyata kedua spesies hiu itu sama-sama unik! Gak sesuai sama bayangan ‘hiu’ yang udah terbentuk, yang selalu kita lihat lewat tv, film maupun buku. jauh deh pokoknya!

Yang pertama, ada Wobbegong shark. Okay.. gapapa, namanya emang aneh kalo baru pertama kali denger.. hehe.. bentuknya gak kalah aneh loh! Jadi.. Wobbegong shark itu, ternyata bernama lain carpet shark atau hiu karpet dalam bahasa Indonesia! Udah mulai kebayang, kan? *wink*

Wobbegong shark!

Wobbegong shark! Lihat rumbai mulutnya di foto pertama, kan? kayak jenggot yah.. :)

Jadi, hiu karpet ini biasanya suka nempel beristirahat di atas karang atau pasir di dasar laut. Tubuhnya yang agak gepeng, rumbai di bagian mulut, dan kulitnya yang bertekstur dengan corak yang unik, membuat hiu karpet ini mudah berkamuflase. Makanya kita harus hati-hati kalau diving, takutnya gak sengaja nginjek karena gak kelihatan.. ntar dia merasa terganggu, kan repot.. hihi

Kebetulan, saat di Raja Ampat.. berkat bantuan om Saka, seorang dive master lokal yang hebat disana, saya merasa terhormat karna dipertemukan langsung dan bahkan difoto bareng si hiu karpet! Yeahh!! \m/

Foto bareng si wobbegong shark!

Foto bareng si hiu karpet!

Sukaaa banget deh liatin si hiu karpet itu dari belakang.. apalagi liatin insangnya yang bergerak saat bernafas. Beautiful! Ada satu moment saat dia berenang dan saya mengikutinya dari belakang, sebuah pemandangan yang luar biasa buat saya! Gimana enggak? Perpaduan gerakan tubuh, sirip, dan ekornya saat berenang membuat hiu karpet ini terlihat bagaikan seorang penari yang sedang terbang sambil berlenggak-lenggok di dalam laut.. cantikkk bangettt!! :))

Oh! Waktu itu ada kejadian yang jujur membuat saya malu sama diri sendiri, so please jangan di tiru yahh! Jadi, kulit hiu karpet yang unik (bertekstur dan bercorak) itu, akhirnya, amat sangat menggoda saya untuk bandel dan pegang langsung karna penasaran, walau saya udah tau itu gak boleh dilakukan. (INGET, JANGAN DIIKUTIN YAHH! PLIS!) Tapi, akhirnya ke gep juga sama Teh Riyanni dan tangan saya langsung di ‘pukpuk’ pake tongkat! tanda pengingat kalo itu gak boleh dilakukan.. haha! *yanasib anak bandel — funny moment, though! :D

Untuk yang bertanya-tanya, kenapa gak boleh megang si hiu? sebenarnya, gak cuma hiu aja.. tapi sebaiknya kita gak sembarangan menyentuh apapun yang ada di laut. Karna selain mengganggu, secara tidak sadar kita mungkin bisa merusak loh! Ada juga beberapa tanaman di laut, yang kalau disentuh bisa membuat tangan kita gatal-gatal, seperti terbakar atau bahkan bengkak! Begitu.. Dan setelah cari-cari info lebih lanjut, saya baru tahu kalau hiu karpet ternyata punya tubuh yang fleksible! Jadi, bisa aja waktu itu dia langsung gigit saya, karna merasa terganggu.. who knows? Thanks to Teteh yang udah ngawasin. *lesson-learned* :’)

"Take only pictures and leave nothing but bubbles!" Papua Diving

“Take only pictures and leave nothing but bubbles!” Papua Diving

Diluar itu semua, ternyata hiu karpet yang hanya ada di perairan Australia, Indonesia, dan Jepang (Japanese Wobbegong) ini, mengalami penurunan populasi juga loh! Di Australia, dagingnya ternyata dijual di restoran-restoran fish and chip dengan sebutan flake (daging hiu). Selain itu, kulitnya juga diambil untuk dijual! hiii… sedih deh.. Padahal, sama seperti hiu secara general; selain lambat dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berkembang biak, hiu karpet juga memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut! aakkh! Let’s #savesharks!! :'(

Nah.. yang kedua, ada Kalabia Shark. Gak mau kalah sama hiu karpet, hiu kalabia ini juga punya keunikan tersendiri loh! Hiu ini bahkan punya 2 nama julukan, yaitu walking shark dan bamboo shark. IYA! Sesuai kedua julukannya, hiu kalabia ini “berjalan” dengan sirip yang menyentuh dasar laut.. lucu yahh.. dan badannya yang panjang lonjong dengan kulit yang berwarna agak kuning bercorak coklat membuatnya terlihat seperti bambu. Pas kan sama julukannya? :D

Kalabia shark

Kalabia shark!

Om Saka sedang merekam hiu kalabia! Hebat loh, karna butuh kesabaran untuk merekamnya..

Om Saka sedang merekam hiu kalabia! Gak mudah loh, butuh kesabaran..

Gak cuma itu, sebagai salah satu ikan khas Raja Ampat, nama Kalabia sendiri akhirnya dipakai sebagai nama sebuah kapal pendidikan anak-anak, dalam program hasil kerjasama antara Conservation International (CI) dan The Nature Conservancy (TNC). Hebat yah! Jadi, kapal pendidikan bernama Kalabia yang mempunyai motto “berlayar sambil belajar” ini, mempunyai sebuah misi; yaitu, membentuk perilaku yang pro konservasi pada anak sejak dini.. karena anak-anak merupakan target jangka panjang untuk menjaga dan melestarikan alam. Salut!

Kapal pendidikan Kalabia

Kapal pendidikan Kalabia

“Hari ini, Kabupaten Raja Ampat melangkah lebih maju. Kehadiran kapal pendidikan kelautan menunjukan bahwa betapa pentingnya laut dan keanekaragaman hayati perairan itu dijaga. Karena masyarakatlah yang akan menikmati seluruh kekayaan alam laut yang ada di Raja Ampat ini,” ujar Markus Wanma, Bupati Raja Ampat, dalam peresmian kapal Kalabia – Februari 2008.

Gimana? Menarik, kan? kedua spesies endemik ini masih sebagian kecil dari kekayaan laut yang ada di Indonesia loh! Jadi makin semangat untuk eksplor lebih banyak lagii deh.. :))

Cheers!

– kar

—–

• Foto underwater © Zakarias Wader (om Saka)

• Referensi:

Wobbegong Shark – yang diakses pada 21 Februari 2013.

SEA LIFE Conservation Fund – yang diakses pada 21 Februari 2013.

Kapal pendidikan Kalabia – Conservation International – yang diakses pada 22 Februari 2013.

Advertisements