Tags

, , , , , , , ,

Yay!

Yay!

Berikut adalah lanjutan dari journey’s highlights tim kami dalam perjalanan di Raja Ampat!

5. First dive!

Gila, gila, gila… ini adalah pengalaman diving saya yang pertama! Dan karena belum punya license.. saya dan Sefin jadinya hanya discovery diving yang berarti gak boleh menyelam lebih dari 10m dan harus selalu di awasi oleh dive master. :D

Dengan sabar, Teh Riyanni menjelaskan pada kita berdua, satu persatu dimulai dari alat-alat, kode di dalam air, hingga beberapa praktek yang akan dipakai yaitu cara mengadaptasikan tekanan di telinga (equalize) juga cara untuk mengeluarkan air yang masuk ke dalam masker saat berada di bawah laut (mask clearing).

Untuk safety, sambil dipegangi teteh, kita juga tetap berpegangan sama tali yang terkait dengan jangkar sehingga lebih mudah untuk mempraktekkan hal-hal yang baru diajari.

Lima kata untuk ini, yaitu semakin jatuh cinta sama laut! :D

—–

6. Desa Wisata.

anak-anak desa Arborek.

anak-anak desa Arborek.

anak-anak yang lucu dan penuh senyuman.

anak-anak yang lucu dan penuh senyuman.

Kami pergi ke dua desa wisata yaitu desa Arborek dan desa Sawinggrai.

Di desa Arborek, kita disambut oleh belasan anak desa yang berkumpul di sekitar jetty. Lucuuu banget! Rasanya anak-anak lokal disini selalu mempunyai senyuman yang paling bersinar dan tulus! :D

Yang spesial disini adalah kerajinan tangannya! Sebagian besar mama di desa membuat topi anyaman sebagai pendapatan alternatif.. tapi, topinya bukan topi biasa loh.. bentuknya unik, yaitu berbentuk pari manta! Kreatif banget!

Para mama di desa Arborek sedang menganyam topi.

Para mama di desa Arborek sedang menganyam topi.

Nah untuk cerita tentang desa Sawinggrai, bisa langsung di cek ke blogpost dengan judul ‘Belajar dari Warga Lokal Desa Sawinggrai, Raja Ampat’. :))

—–

7. Conservation International (CI) field-station dan Wayag!

Telur dadar saus mangga saat kita masak memasak di field-station CI! :D

Telur dadar saus mangga hasil masak bareng di field-station CI! :D

Pada hari ke 4, kami menginap satu malam di CI field-station, disini #terpampangnyata sebuah list hasil laut yang sedang di ‘Sasi’.

Sasi sendiri merupakan sebuah tradisi adat yang melarang penangkapan/ pengambilan hasil laut tertentu dalam jeda waktu yang telah disepakati dan ditentukan. Intinya, tradisi ini dilakukan untuk menjaga siklus dalam kehidupan laut, agar jenis yang sedang di Sasi bisa berkembang biak dan tumbuh besar tanpa diambil sebelum waktunya.

Sasi di kawasan konservasi Raja Ampat.

Sasi di kawasan konservasi Raja Ampat.

Disana, kita juga dijelaskan oleh monitoring team tentang cara mengukur hiu yang ternyata masih manual! Fungsi monitoring yang biasa dilakukan 2x dalam sebulan ini adalah untuk mengetahui jumlah hiu yang datang dan ada di daerah konservasi seluas 155.000 hektar ini! Seluas itu loh daerah yang harus kita jaga dan itu baru di Raja Ampat aja.. masih banyak lagi daerah lainnya di seluruh penjuru Indonesia pada khususnya! :D

Selesai monitoring, kami semua snorkling di daerah yang masih ada 2 blacktip sharks yang masih berenang bebas, tapi gak bahaya kok.. bahkan saat di rekam sama Om Saka, salah satunya malah ketakutan dan kabur.. hihi

Black tip shark yang mendekat ke sekitar jetty saat monitoring.

Black-tip shark yang mendekat ke sekitar jetty saat monitoring.

Saat sunset, saya diajari cara mengambang oleh Teh Riyanni.. dannn berhasil! seneng dehhh.. haha! akhirnya kami semua mengambang santai bergaya pari manta sambil menikmati langit senja dan suara ombak. #simplejoy :”D

Pagi setelahnya, kami bergegas ke Wayag untuk mendaki bukit ‘kacamata’ (nama ini berasal dari kisah Teh Riyanni yang kehilangan kacamata nya disini.. hihi). Setelah sekitar 15 menit mendaki, kita akhirnya sampai di puncak bukit, dimana sejauh mata memandang menyuguhkan pemandangan yang.. demi Tuhann, keren abis! *gebrak meja* Sekeliling kita itu lohhh warnanya didominasi oleh warna biru dan hijau, bahkan laut di bawah terlihat gradasinya! :’)

perjalanan ke bukit kacamata di Wayag.

perjalanan ke bukit kacamata di Wayag.

puncak salah satu bukit di Wayag

puncak salah satu bukit di Wayag!

—–

8. Endemic Species – Wobbegong yang berjenggot dan Kalabia yang bisa jalan.

Sama seperti kisah Pak Mayor. Artikel tentang kedua jenis hiu yang salah satunya hanya ada di Raja Ampat ini berjudul “Yang Spesial dari Bagian Paling Timur Indonesia!” Jadi silahkan langsung baca di blog-post itu.. :D

Sebenarnya masih banyak sih hal yang berkesan yang mungkin bisa jadi beberapa blog-post lagi, tapi semoga delapan highlights dalam 7 hari perjalanan di Papua Barat bersama #savesharks team ini bisa mewakili itu semua. *kangen mode-on* :’D

Last but definitely not the least! Saya bersyukur banget bisa kenal sama semua orang dalam Nescafe Journey yang mau share pengalaman bahkan mengajari banyak hal yang sangat membuka mata. Terima kasih! Ini baru hidup! :))

Team mates!

Bersama travel mates yang ngangenin! :’)

R4 Gate di bandara Soekarno-Hatta menyambut kedatangan kami, semoga ini tanda untuk kembali lagi ke Raja Ampat! :D

Pintu R4 di bandara Soekarno-Hatta menyambut kedatangan kami, semoga ini tanda untuk kembali lagi ke Raja Ampat! :D

See you again Raja Ampat!

Notes

1. Perjalanan dari Sorong ke Waisai biasanya memakan waktu 2 jam dengan kapal ferry, kecuali bila cuaca tidak mendukung, mungkin bisa sampai 3 jam. Naik Marina Express 6 dengan harga tiket Rp.120.000,- yang dibeli langsung di sana.

2. Di Waisai, kami menginap di Acropora Cottage yang tidak jauh dari pelabuhan, dan menyewa sebuah bungalow dengan 2 kamar + 1 kamar mandi luar. It costs around Euro 90/night (breakfast included) dan kayaknya plus extra bed deh, atau enggak ya.. lupa.. hehe

3. Homestay warga lokal reccomended kok! Kami sempat menginap semalam di Mambefor Homestay desa Sawinggrai, juga semalam di sebuah homestay desa Mangkurkodong dimana sang mama disana masak untuk kita! Enakkkk! :D

Desa Mangkurkodong!

Desa Mangkurkodong!

mangkurkodong

Masih di desa Mangkurkodong.

Cek juga JOURNEY’S HIGHLIGHTS PART 1!

Cheers!

– Kar

Advertisements